Jumat, 07 Juni 2013

Sastra Anak Pulau Kera



Di pulau Kera  lautan terpinggir seperti seorang  ibu dalam jernih putih bersih menang Kukuh disetiap waktu.
Sedaratan Laut Pulau ini, aku hidup dan dilahirkan sebauh pulau yang kas pulau yang kadang orang membicarakan berbisik parau, menjadikanku ragu sebagai anak negeri disini.
Aku ingin maju dan mandiri, bukan hanya berdiri menunggu dan termangu walau kata orang pulau ini. Pulau diatas sangketa perebutan tuan tanah, diatas derita kering, panas, terpencil  dan kumuh dalam kesukuan bahasa, namun kata ibu aku tak harus mendengar angin diatas batu yang terus membalu menghilang melalui makam orang-orang tak dikenal. Memang aku, terlahir dari rahim ibuku, bertempat tanah terkucil dalam pulau kelahiranku.
Dipulau ini, walau aku dibesarkan berliring tangis dari kebodohan, namun hanya ku bisa tetap menunggu, terkadang ku menangis dan berharap ingin layak seperti anak-anak mereka digemerlapan lampu-lampu kota disana.
Dalam hatiku, aku menjadi anak negeri yang tumbuh sehat, cerdas dan akan menggapai  berpendidikan yang layak, bukan menjadi anak negeri seperti terdampar hilang dipesesir negeri sendiri.
Oleh         : Mahajo
Siswa       : Kelas III SD MIS Pulau Kera

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar